Oleh
Agus Abdullah, PhD
Disampaikan pada khutbah Iedul Adha 2008M/1429H di KJRI Houston
Innal hamdalillah nahamaduhu wanasta'inuhu wanastaghfiruhu, wana'uzu billahi min shururi anfusina wa min sayyi 'aati 'aamalina. May yahdihillahu Fala mudhillalah , wa may yudlil falaa haadiyalah.
Ashadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa sharikalah, wa ashadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh …
Allahu akbar
Allahu akbar
Allahu akbar wallilahilmamd
Baru-baru ini, kita semua kembali dihadapkan dengan sebuah peristiwa yang memilukan.
Lebih dari 160 rakyat sipil tak berdosa tewas dan lebih dari 320 luka-luka akibat aksi terorisme di Mumbai, India.
Tentu masih segar dalam ingatan kita, tak kurang satu bulan dari itu, lebih dari 300 rakyat sipil tewas akibat konflik horizontal di Nairobi, Afrika.
Belum lagi, rakyat tak berdosa, wanita dan anak-anak, menjadi korban peperangan yang tak kunjung usai di belahan dunia yang lain.
Nampaknya, keadaan dunia saat ini benar-benar senada dengan apa yang dikatakan oleh Abdul Ghaffar Khan, bahwa saat ini dunia sedang berjalan ke arah yg aneh sekali, dunia sedang menuju perusakan dan kekerasan, yang menciptakan kebencian dan ketakutan diantara manusia.
Seolah-olah dunia sudah liar, tak terkendali dan terjebak dalam siklus perusakan dan kekerasan yang melahirkan kebencian, ketakutan, saling curiga, dan saling tuding antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya antara satu penganut agama dengan penganut agama yang lainnya.
Kekerasan dan terorisme terjadi di berbagai belahan dunia, dari mulai Irlandia, Libanon, hingga Asia Pasifik dan melibatkan banyak agama mulai Kristen sampai Hindu, serta lintas ideologi. Seperti Red Brigade di Italia, Basque /Eta di Spanyol, Baader Meinhof di Jerman, Kultus Aum di Jepang, bahkan di Amerika Serikat sekalipun.
Tentu kita masih ingat, terorisme yang dilakukan oleh Timothy McVeigh yang melakukan pengeboman di Oklahoma yang menewaskan 168 orang, serta peristiwa terorisme 11 September yang dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama Islam.
Alasan dan latar belakang mereka melakukan kekerasan dan terorisme pun bermacam-macam, dari mulai cita-cita untuk merdeka, karena perbedaan agama, ideologi, karena dendam, sampai karena ingin mencapai kesyahidan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Scott Atran, seperti dikutip Jason Burke, dalam tulisannya “Al-Qaeda: Casting a Shadow of Terror, 2003” para pelaku bom bunuh diri itu "bukanlah para pengecut gila yang bergelut dalam kemiskinan dan kesengsaraan hidup", tetapi beberapa analis menunjukkan bahwa motivasi kunci bagi pelaku bom bunuh diri adalah untuk gengsi "kesyahidan" (martyrdom).
Demikian juga dengan pelaku teror di Kashmir, yang pelakunya adalah warga negara Pakistan, yang menyerang target-target India, mereka bertujuan untuk "membalas dendam atas penghinaan" yang dilakukan terhadap saudara seagama mereka, rakyat Kashmir.
Hadirin rahimakumullah,
Bagi kita, sebagai seorang muslim, sudah jelas, tindakan terorisme tidak bisa diterima, sekalipun dengan alasan-alasan serta latar belakang diatas.
Disamping karena haramnya menumpahkan darah orang tak berdosa, juga tindakan terorisme akan sangat merugikan umat islam itu sendiri, sebagaimana kata seorang ulama bahwa Al-Islam mahjubul bil muslimin, yang artinya keindahan Islam terhalangi dan terkotori oleh perilaku umat Islam itu sendiri, Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga.
Lihatlah misalnya, tulisan yang disampaikan oleh Robert Spencer dengan judul Religion of Peace, Why Christianity is and Islam Isn’t, yang dipubilkasikan tahun 2007.
Islam dimata mereka adalah agama yang mengajarkan pembunuhan, pengeboman, terorisme, dsb.
Allahu akbar
Allahu akbar
Allahu akbar wallilahilmamd
Hadirin sidang Ied rahimakullah,
Hari ini sekitar 4000 tahun yang lalu, adalah hari yang sangat istimewa, hari yang bersejarah bagi kita semua. Seorang khalilullah, kekasih Allah, seorang yang penyantun, penyayang sesama dan seorang yang lembut hatinya, Nabiyallah, abul anbiya, bapak para Nabi, Nabi Ibrahim Alaihi salam telah lulus ujian yang sangat berat.
Sejarah dan keteladanan Nabi Ibrahim telah banyak disampaikan, terlebih pada khutbah Iedul adha seperti ini.
Pada kesempatan khubah kali ini, saya tidak akan menyampaikan sejarah dan peristiwa kurbannya Nabi Ibrahim a.s., akan tetapi injinkah saya menyampaikan tentang inti ajaran yang diwariskan kepada kita semua oleh kekasih Allah tersebut, yakni Islam sebagai agama dari Nabi Ibrahim as.
Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 67:
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus, seorang muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik"
Hadirin Rahimakumullah…
Secara etimologi, Islam memiliki makna as-silmi yang berarti damai dan selamat serta memiliki misi sebagai rahmat seluruh alam, Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin…dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. 21:107).
Islam sebagai agama damai dan selamat serta rahmat bagi semesta alam, bukanlah sekedar makna dari kata.
Lihatlah, sejarah telah membuktikan,didalam kondisi peperanganpun Islam mengajarkan untuk mengedepankan keadilan, kedamaian, keselamatan dan menjadi rahmat bagi alam semesta, tidak hanya bagi manusia akan tetapi bagi binatang sekalipun, pepohonan, sarana hidup dsb.
Jika Rasulullah akan mengirim ekspedisi beliau selalu berpesan: janganlah membunuh wanita, anak-anak, jangan mengganggu orang tua; jangan merusak bangunan, jangan memotong pohon, jangan memotong binatang, kecuali hanya untuk dimakan.
Kebijakan perang Rasulullah ini sangat diametral dengan politik bumi hangus yang dilakukan oleh tentara Romawi , dimana mereka membangun sebuah rintangan yang tidak bisa dilalui, mereka mengubah sisa tanah luas miliknya menjadi sebuah padang pasir, semua kota dihancurkan, benteng-benteng dibongkar, dan seluruh penduduk dipaksa pindah ke wilayah lain.
Lihatlah juga dalam kitab sejarah Thabari, dapat diketahui bahwa didalam peperangan, Umar al-Faruq melarang keras tentaranya membunuh orang yang lemah dan menodai kuil, serta tempat ibadah lainnya.
Berbeda dengan tindakan penindasan dan kebuasan yang dilakukan Alexander, Caesar Atilla, Ghengiz Khan, dan Hulagu.
Ketika Alexander menaklukan Sur, sebuah kota di Syria, dia memerintahkan para jenderalnya melakukan pembunuhan massal, dan menggantung seribu warga negara terhormat pada dinding kota.
Demikian pula ketika dia menaklukan Astakher, sebuah kota di Parsi, dia memerintahkan memenggal kepala semua laki-laki. Raja lalim seperti Ghengiz Khan, Atilla dan Hulagu bahkan lebih ganas lagi.
Disisi lain, khalifah Umar memerintahkan kaum Muslimin untuk menepati sejumlah jaminan yang pernah diberikan kepada non Muslim, melindungi harta dan jiwanya, dengan taruhan jiwa sekalipun.
Umar bahkan memaafkan penghianatan mereka, yang dalam sebuah pemerintahan beradab di zaman sekarang pun tidak akan mentolerirnya. Karena kebijaksanaan khalifah tersebut, sampai-sampai orang Kristen dan Yahudi di Hems berdoa agar orang Muslim kembali ke negeri mereka, karena mereka merasa aman dan dilindungi dibawah pemerintahan Islam.
Tentu kita masih ingat, bagaimana Islam beretika kepada seorang Yahudi,
Dikisahkan pada masa pemerintahan Amr bin Al-Ash yang menjabat sebagai gubernur Mesir.
Di hadapan istananya itu terdapat sebidang tanah yang luas dan sebuah rumah milik seorang Yahudi . Sang gubernur membongkar rumah Yahudi itu dengan paksa untuk membangun sebuah masjid mewah diatasnya.
Orang Yahudi itu akhirnya mengadukannya kepada Khalifah Umar al-Khattab.
Lalu Umar bin Khattab mengambil sepotong tulang lalu menggoreskan sesuatu pada tulang itu dengan pedangnya. Dan meminta orang Yahudi itu untuk menyerahkan sepotong tulang tersebut kepada Amr bin Ash.
Setelah menerima tulang tersebut, Amr bi Ash gemetar, dan memerintahkan tentaranya untuk membongkar dan meruntuhkan masjid yang telah dibangun diatas tanah yahudi itu.
Allahu akbar
Allahu akbar
Allahu akbar wallilahilmamd
Hadirin sidang Ied rahimakullah,
Bercermin pada ajaran nabi serta keteladanan para sahabat rasul diatas, sangat jelas bahwa tindakan terorisme yang menyebabkan terbunuhnya orang tak berdosa bukanlah ajaran Islam.
Islam adalah agama kedamaian dan ketenangan.
Meskipun dalam peperangan, penyerangan terhadap wanita dan anak-anak tetap diharamkan, hanya prajurit di medan perang yang harus dilawan dengan kekuatan dan hanya terhadap mereka serangan fisik boleh dilakukan.
Disamping itu, kekuatan juga dapat digunakan untuk menghukum kriminal sebatas untuk mengikuti hukum syariah dan itupun atas keputusan seorang hakim yang adil.
Diluar konteks ini, penggunakan kekuatan dan kekerasan sama sekali dilarang.
Kita mendukung fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, fatwa Nomor 3 Tahun 2004, tentang terorisme, yakni hukum melakukan teror adalah haram, baik dilakukan oleh per-orangan, kelompok, maupun Negara.
Demikian juga kita mendiukung respon pemerintah Republik Indonesia, yang menentang dan mengutuk aksi-aksi terorisme.
Kita mendukung para ulama yang menggemakan slogan anti terorisme, para pemimpin ulama yang mengajak umat untuk melawan segala bentuk aksi-aksi teror dalam bentuk dan alasan apapun.
Fatwa haram serta penolakan aksi terorisme ini mendapatkan respon positif, sebagaimana yang dikatakan Pran Chopra seorang pengamat politik, bercerita pada Reuters: "Ini merupakan kebangkitan kesadaran pada umat Islam, tentang bahaya yang mengancam mereka dalam bentuk terorisme, dan semua bentuk tuduhan yang mengasosiasikan (meng-identikkan) kaum muslim dan terorisme"
Hadirin siding ied rahimakumullah,
Ini adalah PR terberat kita, kita sebagai umat islam memiliki tugas untuk mengembalikan citra islam ke asalnya, yakni sebagai agama yang damai, selamat dan rahmat bagi semesta Alam.
Dalam konteks ini, kita memiliki dua tugas besar, yang pertama adalah penyadaran kedalam tubuh umat islam itu sendiri tentang ajaran Islam yang sesuguhnya, yang kedua adalah pemulihan kepercayaan kepada dunia luar, bahwa Islam tidaklah seperti yang mereka tuduhkan.
Semoga, dengan melakukan dua tugas besar ini, dimasa mendatang kita tidak lagi mendengar terorisme ataupun kekerasan yang mengatasnamakan agama ataupun atasnama yang lainnya.
Dan semoga dengan usaha ini, anggapan Abdul Ghaffar Khan yang menyebutkan bahwa saat ini dunia sedang berjalan ke arah yg aneh, yang menuju perusakan dan kekerasan, yang menciptakan kebencian dan ketakutan berubah menjadi dunia yang harmonis, dunia yang menuju perbaikan dan kedamaian, yang dapat hidup berdampingan, saling menghargai bahkan kehadiran umat islam menjadi rahmat bagi semuanya.
Allahu akbar, Allahu akbar
Allahu akbar wallilahilmamd
Hadirin sidang Ied rahimakullah, sebagai penutup ijinkanlah saya membacakan sebuah hadits yang dikisahkan oleh Abu Musa: Orang-orang bertanya pada Rasulullah, Siapa Muslim yang paling baik?" Beliau menjawab," Muslim yang paling baik itu adalah yang menghindarkan dirinya dari mencelakai orang lain baik dengan lisan maupun kedua tangannya"(Haditsh Bukhari )
Kemudian dalam surat An-Nahl ayat 90, Allah swt berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”
ربّنا لا تؤاخذنا ان نسينا او اخطأنا ربّنا ولا تحمل علينا اصرا كما حملته على
الذينمن قبلنا ربّنا ولا تحمّلنا مالا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا انت
مولىنا فانصرنا على القوم الكافرين. ربّنا فاغفرلنا ذنوبنا
وكفّرعنّا سيّأتنا وتوفّنا مع الابرار. ربنا ما وا تنا ما وعدتنا على رسلك ولا تخزنا يوم
القيامة انك لا تخلف الميعاد . ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب
النار. الله اكبر- الله اكبر – الله اكبر – لااله الا الله والله اكبر – الله اكبر ولله
الحمد .
والســلام عليكم ورحمة الله وبركاته.




